LAPORAN
KONSERVASI TANAH DAN AIR

Oleh
ENDAH DWI PURWANINGSIH
C1L 012 015
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
UNIVERSITAS MATARAM
2014
KATA
PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan Rahmat dan
Karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan laporan mata
kuliah Konservasi Tanah dan Air ini tepat pada waktunya.
Laporan mengenai Erosi ini saya buat merupakan salah
satu syarat memenuhi nilai praktikum mata kuliah Konservasi Tanah dan Air juga
bertujuan agar pembaca dapat memperluas cakrawala pemahaman dalam hal penanganan dilapangan yang menjadi
acuan pembaca dalam mengambil tindakan baik itu secara teknis ataupun material,
serta mampu menambah wawasan serta keilmuannya mengenai tingkat erosi, mengetahui cara konservasi yang cocok untuk di terapkan di
suatu kawasan dan mengetahui kelas
kesesuaian lahan.
Selain
itu, saya juga mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang dapat kami
jadikan koreksi dalam pembuatan laporan Konservasi Tanah dan Air ini. Semoga
laporan ini dapat bermanfaat dan dapat digunakan sebaik mungkin sehingga akan
menghasilkan hasil yang memuaskan dan sesuai keinginan.
.
Mataram, 29
Desember 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR...................................................................................................... ii
DAFTAR
ISI.................................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN............................................................................................... 1
A. Latar
Belakang.................................................................................................. 1
B. Tujuan............................................................................................................... 2
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................... 3
BAB
III METODELOGI PRAKTIKUM........................................................................ 5
A. Waktu
dan Tempat........................................................................................... 5
B. Alat
dan Bahan................................................................................................. 5
C. Cara
Kerja......................................................................................................... 5
BAB
IV HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................................ 7
A. Hasil
Pengamatan............................................................................................. 7
B. Pembahasan...................................................................................................... 14
BAB
V PENUTUP........................................................................................................... 18
A. Kesimpulan....................................................................................................... 18
B. Saran................................................................................................................. 18
DAFTAR
PUSTAKA....................................................................................................... 19
LAMPIRAN.....................................................................................................................
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Konservasi
tanah dan air atau yang sering disebut pengawetan tanah merupakan usaha-usaha
yang dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan produktifitas tanah, kuantitas
dan kualitas air. Apabila tingkat produktifitas tanah menurun, terutama karena
erosi maka kualitas air terutama air sungai untuk irigasi dan keperluan manusia
lain menjadi tercemar sehingga jumlah air bersih semakin berkurang. Konservasi
tanah pada umumnya terdapat di berbagai tempat yang secara nyata berdampak pada
perbandingan panjang kemiringan tanah yang diakibatkan oleh air hingga tanah
menyusut. Lalu terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan pada konservasi
air dalam rangka pengontrolan erosi dimana kemirinagan tanah yang telah
ditentukan dalam persen dan panjang kemiringan tanah yang disebut dengan
systemcropping.
Erosi
sebenarnya merupakan proses alami yang mudah dikenali, namun di kebanyakan
tempat kejadian ini diperparah oleh aktivitas manusia dalam tata guna lahan
yang buruk, penggundulan hutan, kegiatan pertambangan, perkebunan dan
perladangan, kegiatan konstruksi / pembangunan yang tidak tertata dengan baik
dan pembangunan jalan. Tanah yang digunakan untuk menghasilkan tanaman
pertanian biasanya mengalami erosi yang jauh lebih besar dari tanah dengan
vegetasi alaminya. Alih fungsi hutan menjadi ladang pertanian meningkatkan
erosi, karena struktur akar tanaman hutan yang kuat mengikat tanah digantikan
dengan struktur akar tanaman pertanian yang lebih lemah.
Hilangnya fungsi tanah sebagai sumber unsur hara bagi tumbuhan dapat terus menerus diperbaharui dengan pemupukan, tetapi hilangnya fungsi tanah sebagai tempat berjangkarnya perakaran dan menyimpan air tanah tidak mudah diperbaharui karena diperlukan waktu yang lama untuk pembentukan tanah. Kerusakan air berupa hilangnya atau mengeringnya sumber air dan menurunnya kualitas air. Hilang atau mengeringnya sumber air berkaitan erat dengan erosi, sedangkan menurunnya kualitas air dapat dikarenakan kandungan sedimen yang bersumber dari erosi atau kandungan bahan bahan dari limbah industri/pertanian.
Kekuatan
perusak air yang mengalir di atas permukaan tanah akan semakin besar dengan
semakin panjangnya lereng permukaan tanah. Tumbuhan-tumbuhan yang hidup di atas
permukaan tanah dapat memperbaiki kemampuan tanah menyerap air dan memperkecil
kekuatan butir-butir perusak hujan yang jatuh, serta daya dispersi dan angkutan
aliran air di atas permukaan tanah. Perlakuan atau tindakan-tindakan yang
diberikan manusia terhadap tanah dan tumbuh-tumbuhan di atasnya akan menentukan
kualitas lahan tersebut.
Dari
laporan ini, maka akan diuraikan tentang tingkat erosi, cara konservasi yang
cocok untuk diterapkan pada suatu kawasan dan mengetahui kelas kesesuaian lahan
pada suatu kawasan.
B.
Tujuan
Adapun
tujuan dari praktikum Konservasi Tanah dan Air adalah
1.
Untuk
mengetahui tingkat erosi di Hutan Sedau Narmada kecamatan Lombok Barat.
2.
Untuk
mengetahui cara konservasi yang cocok
untuk di terapkan dikawasan Hutan Sedau Narmada kecamatan Lombok Barat.
3.
Untuk
Mengetahui kelas kesesuaian lahan.
BAB II . TINJAUAN PUSTAKA
Konservasi tanah adalah
penempatan tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah
tersebar dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar
tidak terjadi kerusakan tanah. Upaya konservasi tanah bertujuan untuk mencegah
erosi, memperbaiki tanah yang rusak, memelihara serta meningkatkan
produktivitas tanah agar tanah dapat digunakan secara berkelanjutan. Konservasi
air pada prinsipnya adalah penggunaan air hujan yang jatuh ke tanah untuk
pertanian seefisien mungkin dan mengatur waktu aliran agar tidak terjadi banjir
yang dapat merusak serta mempersiapkan ketersediaan air pada musim
kemarau (Sukrianto, 1990).
Erosi adalah suatu peristiwa hilang atau terkikisnya tanah
atau bagian tanah dari suatu tempat yang terangkut ke tempat lain, baik
disebabkan oleh pergerakan air ataupun angin (Arsyad, 1989).
Tanah yang produktif dan
tersedianya air yang cukup teratur adalah sangat penting bagi kehidupan manusia
beserta mahluk hidup lainnya, seperti yang sudah diketahui bahwa bagian yang
paling vital dari tanah yaitu tanah lapisan permukaan (top soil) yang merupakan zona tersedianya sumber nutrisi bagi
berbagai macam jenis tanaman yang dibutuhkan manusia dan ternak. Tanah merupakan
basis fisik bagi bidang pertanian, akan tetapi sangat disayangkan bahwa di
bawah kondisi-kondisi tertentu tanah merupakan suatu sumber alam yang paling
tidak stabil. Kekuatan air hujan dan angin dalam gerakannya di atas permukaan
tanah, mengangkat dan memindahkan partikel-partikel tanah dapat menimbulkan
kerusakan, kerugian dan membahayakan lingkungan (Kartasapoetra,1989)
Erosi adalah hilangnya atau terkikisnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat yang diangkut oleh media alami ketempat lain. Erosi menyebabkan hilangnya lapisan atas tanah yang subur, baik untuk pertumbuhan tanaman serta berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air. Tanah yang terangkut tersebut akan diendapkan ditempat lain: didalam sungai, waduk, danau, saluran irigasi dan sebagainya. Erosi sebenarnya merupakan proses alami yang mudah dikenali, namun di kebanyakan tempat kejadian ini diperparah oleh aktivitas manusia dalam tata guna lahan yang buruk, penggundulan hutan, kegiatan pertambangan, perkebunan dan perladangan, kegiatan konstruksi / pembangunan yang tidak tertata dengan baik dan pembangunan jalan. Tanah yang digunakan untuk menghasilkan tanaman pertanian biasanya mengalami erosi yang jauh lebih besar dari tanah dengan vegetasi alaminya. Alih fungsi hutan menjadi ladang pertanian meningkatkan erosi, karena struktur akar tanaman hutan yang kuat mengikat tanah digantikan dengan struktur akar tanaman pertanian yang lebih lemah (Samrumi, 2009).
Faktor erodibilitas tanah
menunjukkan resistensi partikel tanah terhadap pengelupasan dan transportasi
partikel-partikel tanah tersebut oleh adanya energy kinetik air hujan. Meskipun
besarnya resistensi tersebut akan tergantung pada topografi, kemiringan lereng
dan besarnya gangguan oleh manusia. Besarnya erodibilitas atau resistensi tanah
juga ditentikan oleh karakteristik tanah seprti tekstur tanah stabilitas
agregat tanah, kapasitas infiltrasi, kandungan organic dan kimia tanah (Asdak,
2004).
BAB III. BAHAN DAN METODE
A.
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan di kawasan Hutan Sedau
kecamatan Narmada Lombok Barat pada hari Jum’at tanggal 21 November 2014 mulai
pada pukul 14.00 WITA sampai 18.00 WITA
B.
Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan untuk pengambilan sampel
dilapangan antara lain :
1.
Ring
sampel ukuran besar dan kecil
2.
Pisau
Cutter
3.
Kantong
Plastik
4.
Meteran
Adapun bahan yang digunakan untuk pengambilan sampel dilapangan
antara lain :
1.
Data
primer dari lahan tempat dilaksakannya praktikum
2.
Data
Skunder dari lahan tempat dilaksanakannya praktikum
C.
Cara Kerja
Pelaksanaan praktikum dilakukan secara observasi
lapangan Hutan Sedau kecamatan Narmada Lombok Barat yang mana untuk mengambil
data lapangan seperti keadaan vegetasi, pengambilan sampel tanah, data
pengukuran kemiringanlahan tindakan konservasi yang dilakukan dan data curah
hujan serta penentuan strukturtanah.
Adapun langkah-langkah pelaksanaan praktikum di
lapangan adalah
1. Ditentukan lahan yang akan dijadikan lokasi praktikum
2. Ditentukan titik pengambilan sampel tanah
3. Diukur kemiringan
4. Diukur panjang lereng
5. Di bor tanah untuk menghitung laju permeabilitas
6. Dihitung nilai R
7. Dihitung nilai K
8. Dihitung Nilai LS
9. Ditentukan nilai C
10. Ditentukan nilai P
11. Ditentukan nilai besarnya erosi dengan rumus
A=R.K.LS.C.P (Dalam satuan
ton/ha/tahun)
BAB IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Praktikum
Adapun hasil
dari praktikum yang telah dilaksanakan tercantum dalam tablel berikut
:
Tabel 1. Prakiraan besarnya nilai K
untuk beberapa jenis tanah
|
No
|
Jenis tanah
|
Nilai K rata-rata
|
|
1
|
Latosol
kuning kemerahan
|
0,56
|
|
2
|
Latosol
coklat
|
0,23
|
|
3
|
Latosol
coklat kemerahan dan litosol
|
0,43
|
|
4
|
Latosol
kuning kemerahan dan litosol
|
0,36
|
|
5
|
Regosol
(Troporthrents)
|
0,14
|
|
6
|
Grumosol
(Chromudents)
|
0,27
|
|
7
|
Grumosol
|
0,21
|
|
8
|
Gley humic
|
0,20
|
|
9
|
Gley humic
|
0,23
|
|
10
|
Gley humic
|
0,26
|
|
11
|
Alluvial
|
0,47
|
|
12
|
Lithosol
|
0,29
|
|
13
|
Podsolik
(Tropudults)
|
0,16
|
|
14
|
Podsolik
merah kuning
|
0,32
|
|
15
|
Komplek
mediteran coklat kemerahan
|
0,46
|
|
16
|
Mediteran
coklat kemerahan
|
0,32
|
|
17
|
Mediteran
coklat
|
0,36
|
Tabel
3.2 Indeks faktor kemiringan lereng
|
No
|
Kemiringan lereng (%)
|
Penilaian
|
|
1
|
0-8
|
0,4
|
|
2
|
8-15
|
1,4
|
|
3
|
15-25
|
3,1
|
|
4
|
25-40
|
6,8
|
|
5
|
>40
|
9,5
|
Tabel
2. Nilai faktor pengelolaan tanaman (C)
|
No
|
Penggunaan lahan
|
Nilai C
|
|
1
|
Tanpa tanaman
|
1,00
|
|
2
|
Tegalan
|
0,70
|
|
3
|
Kacang-kacangan
|
0,60
|
|
4
|
Kentang
|
0,40
|
|
5
|
Kacang tanah
|
0,20
|
|
6
|
Padi
|
0,56
|
|
7
|
Pisang
|
0,60
|
|
8
|
Kopi dengan
penutup tanah
|
0,20
|
|
9
|
Kebun
campuran
|
0,07
|
|
10
|
Perladangan
|
0,40
|
|
11
|
Hutan alam
a.
Seresah banayak
b.
Seresah sedikit
|
0,01
0,05
|
|
12
|
Semak
belukar/padang rumput
|
0,1
|
|
13
|
Padi dan
kedelai
|
0,4
|
Tabel
3. Nilai faktor pada berbagai aktivitas konservasi tanah di Pulau Jawa
|
No
|
Teknik konservasi
|
Nilai P
|
|
1
|
Teras
tradisional
|
0,4
|
|
2
|
Penggunaan
system strip dengan jarak tanam 2 meter
|
0,2
|
|
3
|
Penanaman
menurut garis kontur
|
0,1
|
|
4
|
Tanaman
perkebunan :
a.
Dengan penutup tanah rapat
b.
Dengan penutupan tanah sedang
|
0,1
0,5
|
|
5
|
Pengolahan
tanah dan penanaman menurut garis kontur
|
0,5
|
|
6
|
Semak belukar tidak
terganggu
|
0,1
|
|
7
|
Penggunaan
mulsa jerami
|
0,2
|
Tabel
4. Nilai faktor pengelolaan tanaman dan
konservasi tanah (CP)
|
No
|
Tipe penggunan lahan
|
Nilai CP
|
|
1
|
Hutan tidak terganggu
|
0,01
|
|
2
|
Hutan tanpa
tumbuhan rendah
|
0,01
|
|
3
|
Hutan tanpa
tumbuhan rendah dan seresah
|
0,5
|
|
4
|
Semak/belukar
tidak terganggu
|
0,01
|
|
5
|
Semak/belukar sebagian
ditumbuhi rumput
|
0,1
|
|
6
|
Kebun
campuran
|
0,07
|
|
7
|
Pekarangan
|
0,02
|
|
8
|
Perkebunan
tanaman keras hanya sebagian tanaman penutup tanah
|
0,07
|
|
9
|
Pertanian
umum dengan :
a.
Memakai mulsa
b.
Teras bangku
c.
Guludan
|
0,14
0,04
0,14
|
Tebel
5. Penentuan kelas bahaya erosi
|
Kelas
|
Bahaya erosi/A
(ton/ha/thn)
|
|
I
|
<15
|
|
II
|
16-60
|
|
II
|
60-180
|
|
IV
|
180-480
|
|
V
|
>480
|
Tabel
6. Kategori tingkat bahaya erosi (TBE)
|
Tingkat kedalaman solun tanah (cm)
|
Kategori tingkat bahaya erosi
|
||||
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
|
|
Laju erosi tanah (ton/ha/thn)
|
|||||
|
<15
|
15-60
|
60-180
|
180-480
|
>480
|
|
|
Dalam
(>90)
|
SR
0
|
R
I
|
S
II
|
B
III
|
SB
IV
|
|
Sedang
(60-90)
|
R
I
|
S
II
|
B
III
|
SB
IV
|
SB
IV
|
|
Dangkal
(30-60)
|
S
II
|
B
III
|
SB
IV
|
SB
IV
|
SB
IV
|
|
Sangat
dangkal (>30)
|
B
III
|
SB
IV
|
SB
IV
|
SB
IV
|
SB
IV
|
RM = 2,21(P)1.36
|
1.
R jan = 2,21(0,93)1,36
= 2,00
|
|
2.
R feb = 2,21 (2,28)1,36
=6,8
|
|
3.
R mar = 2,21 (0,71)1,36
= 1,4
|
|
4.
R apr = 2,21 (1,05)1,36.
= 2,4
|
|
5.
R mei =
2,21(0,56)1,36
= 1,00
|
|
6.
R jun
= 2,21 (0)1,36.
= 0
|
|
7.
R jul
= 2,21(0,37)1,36
= 0,57
|
|
8.
R agt
= 2,21 (0)1,36.
= 0
|
|
9.
R sep
= 2,21 (0)1,36.
= 0
|
|
10.
R okt
= 2,21 (0)1,36.
= 0
|
|
11.
R nov =
2,21 (1,82)1,36.
= 4,99
|
|
12.
R des =
2,21(0)1,36
= 0
|
|
R Total = ∑ Rm
= 2+6,8+1,4+2,4+1,0+0+0,57+0+0+0+4,99+0 =
= 19,09
|
Lokasi
: Lahan Kosong
Diketahui : tabel curah hujan
K (latosol coklat) = 0,23
CP (teras bangku) = 0,01
R = 19,09
LS = 6,8
= 25 - 40 %
Ditanya :
A ?
Jawab : A = R.K.L.S.C.P
= 19,09 x 0,23 x 6,8 x 0,1
= 2,63 ton/ 0,04 ha/tahun
= 2,63 x 25
= 65,75 ton/ha/tahun
Sehingga, tingkat bahaya erosi pada plot 3 atau berada pada lahan kosong yaitu kelas III atau 60-180 ton/ha/tahun
Data
hasil praktikum dari kelompok lain
:
·
Kelompok 1
Lokasi
: Sawah
Diketahui :
tabel curah hujan
K
(latosol coklat) = 0,23
CP
(teras bangku) = 0,04
L
= 78 m
Kemiringan
10o
R = 19,09
LS
= 8,08
Ditanya : A ?
Jawab : A =
R.K.L.S.C.P
=
19,09 x 0,23 x 8,08 x 0,04
=
1,42 ton/ 0,04 ha/tahun
=
1,42 x 25
=
35,5 ton/ha/tahun
Sehingga, tingkat bahaya erosi pada plot 1 atau berada pada sawah yaitu kelas I atau dibawa (<) 15 ton/ha/tahun
·
Kelompok 2
Lokasi
: Perkebunan tanaman keras hanya sebgian
tanaman penutup tanah
Kemiringan : 0,4 LS
R
: 19,09
Pjng lereng : 40 m
CP
: 0,07
Ditanya : A ?
A = R.K.L.S.C.P
= 19,09 x
0,23 x 0,4 x 0,07
= 0,12
ton/0,04 ha/tahun
= 0,12 x 25
ha
= 3
ton/ha/tahun
Sehingga, tingkat bahaya erosi pada plot 2 atau berada pada kebun campuran
yaitu kelas I atau dibawa (<) 15 ton/ha/tahun.
·
Kelompok 4
Lokasi : perkebunan tanaman keras hanya sebagian
tanaman penutup tanah.
Kemiringan (LS) :
6,8
R :
19,09
K :
0,23
CP :
0,07
Ditanya : A ?
Jawab : A =
R.K.L.S.C.P
=
19,09 x 0,23 x 6,8 x 0,07
=
2,09 ton/0,04 ha/tahun
=
2,09 x 25
=
52,25 ton/ha/tahun
Sehingga tingkat bahaya erosi pada perkebunan campuran
sebesar 52,25 ton/ha/tahun atau berada dikelas II.
·
Kelompok 5
Lokasi : Hutan Alam
Diketahui :
Panjang Lereng : 25 m
Kemiringan :
1,4
LS :
0,15
R :
19,09
K :
0,32
C :
SERASAH BANYAK (0,01)
P :
0,5
CP
: 0,07
Jawab : A =
R.K.L.S.C.P
= 19,09 x 0,32 x 0,15 x 0,07
=
0,064 ton/0,04 ha/tahun
= 0,064 x
25
= 1,5 ton/ha/tahun
Sehingga tingkat bahaya erosi pada perkebunan campuran
sebesar 1,5
ton/ha/tahun atau berada
dikelas I atau bahaya erosi = <15
B. Pembahasan
Erosi
adalah hilangnya atau terkikisnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu
tempat yang diangkut oleh media alami ketempat lain. Erosi menyebabkan
hilangnya lapisan atas tanah yang subur, baik untuk pertumbuhan tanaman serta
berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air. Tanah yang
terangkut tersebut akan diendapkan ditempat lain: didalam sungai, waduk, danau,
saluran irigasi dan sebagainya. Erosi sebenarnya merupakan proses alami yang
mudah dikenali, namun di kebanyakan tempat kejadian ini diperparah oleh
aktivitas manusia dalam tata guna lahan yang buruk, penggundulan hutan,
kegiatan pertambangan, perkebunan dan perladangan, kegiatan konstruksi /
pembangunan yang tidak tertata dengan baik dan pembangunan jalan. Tanah yang
digunakan untuk menghasilkan tanaman pertanian biasanya mengalami erosi yang
jauh lebih besar dari tanah dengan vegetasi alaminya. Alih fungsi hutan menjadi
ladang pertanian meningkatkan erosi, karena struktur akar tanaman hutan yang
kuat mengikat tanah digantikan dengan struktur akar tanaman pertanian yang
lebih lemah.
Erosi permukaan sangatlah
sulit untuk dilihat, terutama pada tanah dengan sudut kemiringan yang kecil.
Namun demikian, pengaruhnya tetap nyata karena dapat dibedakan dengan adanya
penurunan derajat kesuburan tanah, sehingga lama-kelamaan tanah akan semakin
miskin karena air hujan yang jatuh dan mengalir diatas permukaan tanah tersebut
akan melarutkan dan kemudian menghanyutkan butir-butir tanah yang mengandung
unsur-unsur hara tanaman secara berangsur-angsur.
Dari data yang
di dapat dengan lokasi lahan kosong dikawasan Hutan Sedau Narmada kecamatan Lombok Barat,
di dapat data K (latosol
coklat) = 0,23
;
CP (teras bangku) = 0,01
; R = 19,09
; LS = 6,8
= 25 - 40 % dengan tingkat bahaya erosi yaitu 65,75 ton/ha/tahun berada pada kelas III atau 60-180 ton/ha/tahun.
Hal ini
disebabkan karena sedikit kemungkinan air yang dapat diserap oleh akar pada
lahan kosong. Sehingga tingkat erosi yang terjadi lebih tinggi dari pada di
sawah, perkebunan maupun hutan alam.
Faktor yang paling sering berubah-ubah adalah jumlah dan tipe tutupan
lahan. Semakin sedikit penutup tanah maka tingkat erosi semakin besar.
Sedangkan pada
plot 1 atau yang berlokasi di sawah dengan 35,5
ton/ha/tahun Sehingga, tingkat bahaya erosi pada plot 1 atau berada pada sawah yaitu kelas I atau dibawa (<) 15 ton/ha/tahun
Pada lokasi Perkebunan tanaman keras hanya sebgian tanaman penutup
tanah
atau plot 2 dengan Kemiringan
: 0,4 LS,
R
= 19,09,
panjang lereng 40 m CP 0,07 di dapat 3 ton/ha/tahun. Sehingga, tingkat bahaya erosi pada plot 2 atau berada pada kebun campuran
yaitu kelas I atau dibawa (<) 15 ton/ha/tahun.
Pada plot 4
dengan lokasi Perkebunan tanaman keras hanya sebagian tanaman penutup
tanah
dengan Kemiringan (LS)
= 6,8
; R
= 19,09
; K =0,23
dan CP
= 0,07
didapat 52,25
ton/ha/tahun. Sehingga
tingkat bahaya erosi pada perkebunan campuran sebesar 52,25 ton/ha/tahun atau
berada dikelas II.
Lokasi Hutan
alam atau plot 5 di dapat tingkat erosi sebesar 1,5 ton/ha/tahun Panjang Lereng = 25 m ; Kemiringan = 1,4 ; LS = 0,15 ; K = 0,32 ; CP : 0,07. Sehingga tingkat bahaya erosi pada perkebunan campuran
berada dikelas I atau bahaya erosi <15.
Dari data yang
di dapat, perbandingan dengan tingkat erosi dari lokasi sawah, perkebunan tanaman keras hanya sebgian tanaman penutup
tanah,
lahan kosong dan hutan alam yaitu lahan kosong dengan tingkat erosi 65,75 ton/ha/tahun berada pada kelas III atau 60-180 ton/ha/tahun.
Setiap upaya pengolahan tanah akan
menyebabkan terjadinya perubahan sifat-sifat tanah. Tingkat perubahan yang
terjadi sangat ditentukan oleh cara atau metode pengolahan tanah. Perubahan
sifat tanah akibat pengolahan tanah juga berhubungan dengan seringnya tanah
dalam keadaan terbuka, terutama antara 2 musim tanam, sehingga menjadi lebih
riskan terhadap dispersi agregat, erosi, dan proses iluviasi yang selanjutnya
dapat memadatkan tanah.
Kenampakan erosi
berupa riil dan gully sering terjadi pada lembah dengan kemiringan lereng yang
tinggi. Perbedaan tipe penggunaan lahan juga memberikan perbedaan pada tingkat
erosi tanah. Pada jenis tanah dan kemiringan lereng yang sama, hutan memberikan
kontribusi pada terjadinya erosi lebih kecil dibandingkan dengan lahan
pertanian atau semak/belukar. Misalnya perubahan penggunaan lahan, terutama
dari perkebunan kopi menjadi perkebunan jeruk dan lahan pertanian kering,
seperti, jagung dan sayuran, merupakan faktor yang menyebabkan terjadinya
erosi. Struktur pohon dan kanopi tanaman kopi membuat aliran air hujan dapat
tertahan dibandingkan dengan pertanian lahan kering dan tanaman jeruk, di
samping adanya tanaman pelindung
pada tanaman kopi. Air hujan yang
langsung jatuh ke tanah dapat menyebabkan erosi lebih besar, dibandingkan
dengan air hujan yang turun melalui daun dan batang.
Dengan
mengetahui tingkat erosi yang terjadi dikawasan Hutan Sedau Narmada kecamatan Lombok Barat
cara konservasi yang cocok untuk di terapkan Secara
garis besar teknik konservasi dapat dibagi dalam 2 kelompok, yaitu teknik
konservasi vegetatif dan mekanik (sipil teknis). Untuk mencapai hasil yang
maksimum dalam mengendalikan erosi dan aliran
permukaan, aplikasi dari kedua metode ini sebaiknya tidak dipisahkan
Konservasi tanah vegetatif merupakan
semua tindakan konservasi yang menggunakan tumbuh-tumbuhan (vegetasi), baik
tanaman legum yang menjalar, semak perdu atau pohon, maupun rumput rumputan dan
tumbuh-tumbuhan lainnya, serta sisa-sisa tanaman yang ditujukan untuk
mengendalikan erosi dan aliran permukaan. Manfaat lain dari metode konservasi
vegetatif adalah dapat mendukung sistem pengelolaan bahan organik, karena semua
tindakan konservasi vegetatif dapat
berperan sebagai penghasil bahan organik. Kalaupun tanaman konservasi digunakan
sebagai pakan ternak, tidak berarti mengubah fungsinya sebagai penghasil bahan
organik bila pupuk kandang dikembalikan ke lahan, bahkan perpanjangan rantai
ini akan memperbaiki kualitas bahan organik yang dihasilkan.
Semua
perlakuan fisik mekanis yang diberikan terhadap tanah, dan pembuatan bangunan
yang ditujukan untuk mengurangi aliran permukaan dan erosi serta meningatkan
kelas kemampuan tanah disebutsebagai metode konservasi secara sipil teknis/mekanik.
metode konservasi mekanik adalah berbagai macam teras (bangku, gulud, kebun,
individu), rorak, pembuatan berbagai macam saluran pembuanganair, dan saluran
drainase lainnya
BAB V. PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari data yang
di dapat, perbandingan dengan tingkat erosi yang tinggi dari lokasi sawah, perkebunan tanaman keras hanya sebgian tanaman penutup
tanah,
lahan kosong dan hutan alam yaitu lahan kosong dengan tingkat erosi tertinggi
65,75 ton/ha/tahun berada
pada kelas III atau 60-180 ton/ha/tahun.
Konservasi tanah dapat dilakukan dengan
cara Metode Vegetatif
(Konservasi tanah vegetatif merupakan semua tindakan konservasi yang
menggunakan tumbuh-tumbuhan),Metode
sipil teknis (Mekanik), olah tanah konservasi.
B.
Saran
Adapun saran yang dapat saya
berikan yaitu untuk menerapakan
teknik konservasi tanah dan air lebih mengacu pada cara penanggulangan erosi
karena jika erosi sermakin besar dan tidak ditanggulangi maka kesuburan tanah
akan berkurang dan meyebabkan degradsai lahan. Teknik konservasi tanah dan air
yang diterapkan dapat melalui dua cara yaitu secara vegetatif dan mekanik.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad,1989 Konservasi
Tanah dan Air. Bogor: Jurusan Ilmu Tanah IPB.
Asdak, Chay.
1995. Hidrologi dan Pengelolan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: UGM Press.
Kartosapoetra.
1985. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Jakarta: Bumi Aksara
Samrumi. 2009. Pengertian dan Bentuk-bentuk Erosi. Yogyakarta: Kanisius
Sukrianto, T. 1990. Analisis
Keberhasilan Kegiatan Konservasi Tanah dan Air dalam Rangka Pengelolaan Daerah
Aliran Sungai. Tesis. IPB. Bogor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar