Rabu, 07 Januari 2015



LAPORAN
 KONSERVASI TANAH DAN AIR





Oleh
ENDAH DWI PURWANINGSIH
C1L 012 015




PROGRAM STUDI KEHUTANAN
UNIVERSITAS MATARAM
2014

KATA PENGANTAR

            Puji syukur saya  ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan laporan mata kuliah Konservasi Tanah dan Air ini tepat pada waktunya.
Laporan  mengenai Erosi ini saya buat merupakan salah satu syarat memenuhi nilai praktikum mata kuliah Konservasi Tanah dan Air juga bertujuan agar pembaca dapat memperluas cakrawala pemahaman dalam hal penanganan dilapangan yang menjadi acuan pembaca dalam mengambil tindakan baik itu secara teknis ataupun material, serta mampu menambah wawasan serta keilmuannya mengenai tingkat erosi, mengetahui cara konservasi  yang cocok untuk di terapkan di suatu kawasan dan mengetahui kelas kesesuaian lahan.   
Selain itu, saya juga mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang dapat kami jadikan koreksi dalam pembuatan laporan Konservasi Tanah dan Air ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan dapat digunakan sebaik mungkin sehingga akan menghasilkan hasil yang memuaskan dan sesuai keinginan.
.


           


 Mataram, 29 Desember 2014

                                                                                                                                   
                                                                                                      Penulis      

 
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................      ii
DAFTAR ISI....................................................................................................................      iii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................      1
A.      Latar Belakang..................................................................................................    1
B.       Tujuan...............................................................................................................    2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................................      3
BAB III METODELOGI PRAKTIKUM........................................................................      5
A.      Waktu dan Tempat...........................................................................................     5
B.       Alat dan Bahan.................................................................................................    5
C.       Cara Kerja.........................................................................................................   5
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................................      7
A.      Hasil Pengamatan.............................................................................................    7
B.       Pembahasan......................................................................................................   14
BAB V PENUTUP...........................................................................................................     18
A.      Kesimpulan.......................................................................................................    18
B.       Saran.................................................................................................................    18
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................     19
LAMPIRAN.....................................................................................................................


BAB I. PENDAHULUAN
  
A.    Latar belakang

Konservasi tanah dan air atau yang sering disebut pengawetan tanah merupakan usaha-usaha yang dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan produktifitas tanah, kuantitas dan kualitas air. Apabila tingkat produktifitas tanah menurun, terutama karena erosi maka kualitas air terutama air sungai untuk irigasi dan keperluan manusia lain menjadi tercemar sehingga jumlah air bersih semakin berkurang. Konservasi tanah pada umumnya terdapat di berbagai tempat yang secara nyata berdampak pada perbandingan panjang kemiringan tanah yang diakibatkan oleh air hingga tanah menyusut. Lalu terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan pada konservasi air dalam rangka pengontrolan erosi dimana kemirinagan tanah yang telah ditentukan dalam persen dan panjang kemiringan tanah yang disebut dengan  systemcropping.
Erosi sebenarnya merupakan proses alami yang mudah dikenali, namun di kebanyakan tempat kejadian ini diperparah oleh aktivitas manusia dalam tata guna lahan yang buruk, penggundulan hutan, kegiatan pertambangan, perkebunan dan perladangan, kegiatan konstruksi / pembangunan yang tidak tertata dengan baik dan pembangunan jalan. Tanah yang digunakan untuk menghasilkan tanaman pertanian biasanya mengalami erosi yang jauh lebih besar dari tanah dengan vegetasi alaminya. Alih fungsi hutan menjadi ladang pertanian meningkatkan erosi, karena struktur akar tanaman hutan yang kuat mengikat tanah digantikan dengan struktur akar tanaman pertanian yang lebih lemah.

Hilangnya fungsi tanah sebagai sumber unsur hara bagi tumbuhan dapat terus menerus diperbaharui dengan pemupukan, tetapi hilangnya fungsi tanah sebagai tempat berjangkarnya perakaran dan menyimpan air tanah tidak mudah diperbaharui karena diperlukan waktu yang lama untuk pembentukan tanah. Kerusakan air berupa hilangnya atau mengeringnya sumber air dan menurunnya kualitas air. Hilang atau mengeringnya sumber air berkaitan erat dengan erosi, sedangkan menurunnya kualitas air dapat dikarenakan kandungan sedimen yang bersumber dari erosi atau kandungan bahan bahan dari limbah industri/pertanian. 

Kekuatan perusak air yang mengalir di atas permukaan tanah akan semakin besar dengan semakin panjangnya lereng permukaan tanah. Tumbuhan-tumbuhan yang hidup di atas permukaan tanah dapat memperbaiki kemampuan tanah menyerap air dan memperkecil kekuatan butir-butir perusak hujan yang jatuh, serta daya dispersi dan angkutan aliran air di atas permukaan tanah. Perlakuan atau tindakan-tindakan yang diberikan manusia terhadap tanah dan tumbuh-tumbuhan di atasnya akan menentukan kualitas lahan tersebut.
Dari laporan ini, maka akan diuraikan tentang tingkat erosi, cara konservasi yang cocok untuk diterapkan pada suatu kawasan dan mengetahui kelas kesesuaian lahan pada suatu kawasan.

B.     Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum Konservasi Tanah dan Air adalah
1.      Untuk mengetahui tingkat erosi di Hutan Sedau Narmada kecamatan Lombok Barat.
2.      Untuk mengetahui cara konservasi  yang cocok untuk di terapkan dikawasan Hutan Sedau Narmada kecamatan Lombok Barat.
3.      Untuk Mengetahui kelas kesesuaian lahan.









BAB II . TINJAUAN PUSTAKA

Konservasi tanah adalah penempatan tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebar dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Upaya konservasi tanah bertujuan untuk mencegah erosi, memperbaiki tanah yang rusak, memelihara serta meningkatkan produktivitas tanah agar tanah dapat digunakan secara berkelanjutan. Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air hujan yang jatuh ke tanah untuk pertanian seefisien mungkin dan mengatur waktu aliran agar tidak terjadi banjir yang dapat merusak serta mempersiapkan ketersediaan air  pada musim kemarau (Sukrianto, 1990).
Erosi adalah suatu peristiwa hilang atau terkikisnya tanah atau bagian tanah dari suatu tempat yang terangkut ke tempat lain, baik disebabkan oleh pergerakan air ataupun angin (Arsyad, 1989).
Tanah yang produktif dan tersedianya air yang cukup teratur adalah sangat penting bagi kehidupan manusia beserta mahluk hidup lainnya, seperti yang sudah diketahui bahwa bagian yang paling vital dari tanah yaitu tanah lapisan permukaan (top soil) yang merupakan zona tersedianya sumber nutrisi bagi berbagai macam jenis tanaman yang dibutuhkan manusia dan ternak. Tanah merupakan basis fisik bagi bidang pertanian, akan tetapi sangat disayangkan bahwa di bawah kondisi-kondisi tertentu tanah merupakan suatu sumber alam yang paling tidak stabil. Kekuatan air hujan dan angin dalam gerakannya di atas permukaan tanah, mengangkat dan memindahkan partikel-partikel tanah dapat menimbulkan kerusakan, kerugian dan membahayakan lingkungan (Kartasapoetra,1989)

Erosi adalah hilangnya atau terkikisnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat yang diangkut oleh media alami ketempat lain. Erosi menyebabkan hilangnya lapisan atas tanah yang subur, baik untuk pertumbuhan tanaman serta berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air. Tanah yang terangkut tersebut akan diendapkan ditempat lain: didalam sungai, waduk, danau, saluran irigasi dan sebagainya. Erosi sebenarnya merupakan proses alami yang mudah dikenali, namun di kebanyakan tempat kejadian ini diperparah oleh aktivitas manusia dalam tata guna lahan yang buruk, penggundulan hutan, kegiatan pertambangan, perkebunan dan perladangan, kegiatan konstruksi / pembangunan yang tidak tertata dengan baik dan pembangunan jalan. Tanah yang digunakan untuk menghasilkan tanaman pertanian biasanya mengalami erosi yang jauh lebih besar dari tanah dengan vegetasi alaminya. Alih fungsi hutan menjadi ladang pertanian meningkatkan erosi, karena struktur akar tanaman hutan yang kuat mengikat tanah digantikan dengan struktur akar tanaman pertanian yang lebih lemah (Samrumi, 2009). 

Faktor erodibilitas tanah menunjukkan resistensi partikel tanah terhadap pengelupasan dan transportasi partikel-partikel tanah tersebut oleh adanya energy kinetik air hujan. Meskipun besarnya resistensi tersebut akan tergantung pada topografi, kemiringan lereng dan besarnya gangguan oleh manusia. Besarnya erodibilitas atau resistensi tanah juga ditentikan oleh karakteristik tanah seprti tekstur tanah stabilitas agregat tanah, kapasitas infiltrasi, kandungan organic dan kimia tanah (Asdak, 2004).
















BAB III. BAHAN DAN METODE

A.    Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan di kawasan Hutan Sedau kecamatan Narmada Lombok Barat pada hari Jum’at tanggal 21 November 2014 mulai pada pukul 14.00 WITA sampai 18.00 WITA

B.     Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan untuk pengambilan sampel dilapangan antara lain :
1.      Ring sampel ukuran besar dan kecil
2.      Pisau Cutter
3.      Kantong Plastik
4.      Meteran
Adapun bahan yang digunakan untuk pengambilan sampel dilapangan antara lain :
1.      Data primer dari lahan tempat dilaksakannya praktikum
2.      Data Skunder dari lahan tempat dilaksanakannya praktikum

C.    Cara Kerja
Pelaksanaan praktikum dilakukan secara observasi lapangan Hutan Sedau kecamatan Narmada Lombok Barat yang mana untuk mengambil data lapangan seperti keadaan vegetasi, pengambilan sampel tanah, data pengukuran kemiringanlahan tindakan konservasi yang dilakukan dan data curah hujan serta penentuan strukturtanah.
Adapun langkah-langkah pelaksanaan praktikum di lapangan adalah
1.     Ditentukan lahan yang akan dijadikan lokasi praktikum
2.     Ditentukan titik pengambilan sampel tanah
3.     Diukur kemiringan
4.     Diukur panjang lereng
5.     Di bor tanah untuk menghitung laju permeabilitas
6.     Dihitung nilai R
7.     Dihitung nilai K
8.     Dihitung Nilai LS
9.     Ditentukan nilai C
10. Ditentukan nilai P
11. Ditentukan nilai besarnya erosi dengan rumus A=R.K.LS.C.P (Dalam satuan  
     ton/ha/tahun)




















BAB IV. HASIL  PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A.  Hasil Praktikum

Adapun hasil dari praktikum yang telah dilaksanakan tercantum dalam tablel berikut :
Tabel 1. Prakiraan besarnya nilai K untuk beberapa jenis tanah
No
Jenis tanah
Nilai K rata-rata
1
Latosol kuning kemerahan
0,56
2
Latosol coklat
0,23
3
Latosol coklat kemerahan dan litosol
0,43
4
Latosol kuning kemerahan dan litosol
0,36
5
Regosol (Troporthrents)
0,14
6
Grumosol (Chromudents)
0,27
7
Grumosol
0,21
8
Gley humic
0,20
9
Gley humic
0,23
10
Gley humic
0,26
11
Alluvial
0,47
12
Lithosol
0,29
13
Podsolik (Tropudults)
0,16
14
Podsolik merah kuning
0,32
15
Komplek mediteran coklat kemerahan
0,46
16
Mediteran coklat kemerahan
0,32
17
Mediteran coklat
0,36




Tabel 3.2 Indeks faktor kemiringan lereng
No
Kemiringan lereng (%)
Penilaian
1
0-8
0,4
2
8-15
1,4
3
15-25
3,1
4
25-40
6,8
5
>40
9,5

Tabel 2. Nilai faktor pengelolaan tanaman (C)
No
Penggunaan lahan
Nilai C
1
Tanpa tanaman
1,00
2
Tegalan
0,70
3
Kacang-kacangan
0,60
4
Kentang
0,40
5
Kacang tanah
0,20
6
Padi
0,56
7
Pisang
0,60
8
Kopi dengan penutup tanah
0,20
9
Kebun campuran
0,07
10
Perladangan
0,40
11
Hutan alam
a.       Seresah banayak
b.      Seresah sedikit

0,01
0,05
12
Semak belukar/padang rumput
0,1
13
Padi dan kedelai
0,4

Tabel 3. Nilai faktor pada berbagai aktivitas konservasi tanah di Pulau Jawa
No
Teknik konservasi
Nilai P
1
Teras tradisional
0,4
2
Penggunaan system strip dengan jarak tanam 2 meter
0,2
3
Penanaman menurut garis kontur
0,1
4
Tanaman perkebunan :
a.       Dengan penutup tanah rapat
b.      Dengan penutupan tanah sedang


0,1
0,5
5
Pengolahan tanah dan penanaman menurut garis kontur
0,5
6
Semak belukar tidak terganggu
0,1
7
Penggunaan mulsa jerami
0,2

Tabel 4. Nilai faktor  pengelolaan tanaman dan konservasi tanah (CP)
No
Tipe penggunan lahan
Nilai CP
1
Hutan tidak terganggu
0,01
2
Hutan tanpa tumbuhan rendah
0,01
3
Hutan tanpa tumbuhan rendah dan seresah
0,5
4
Semak/belukar tidak terganggu
0,01
5
Semak/belukar sebagian ditumbuhi rumput
0,1
6
Kebun campuran
0,07
7
Pekarangan
0,02
8
Perkebunan tanaman keras hanya sebagian tanaman penutup tanah
0,07
9
Pertanian umum dengan :
a.       Memakai mulsa
b.      Teras bangku
c.       Guludan

0,14
0,04
0,14

Tebel 5. Penentuan kelas bahaya erosi
Kelas
Bahaya erosi/A (ton/ha/thn)
I
<15
II
16-60
II
60-180
IV
180-480
V
>480

Tabel 6. Kategori tingkat bahaya erosi (TBE)
Tingkat kedalaman solun tanah (cm)
Kategori tingkat bahaya erosi
I
II
III
IV
V
Laju erosi tanah (ton/ha/thn)
<15
15-60
60-180
180-480
>480
Dalam (>90)
SR
0
R
I
S
II
B
III
SB
IV
Sedang (60-90)
R
I
S
II
B
III
SB
IV
SB
IV
Dangkal (30-60)
S
II
B
III
SB
IV
SB
IV
SB
IV
Sangat dangkal (>30)
B
III
SB
IV
SB
IV
SB
IV
SB
IV



RM = 2,21(P)1.36
                     1.         R jan = 2,21(0,93)1,36
    = 2,00

                     2.         R feb = 2,21 (2,28)1,36
    =6,8

                     3.         R mar = 2,21 (0,71)1,36
           = 1,4

                     4.         R apr  =  2,21 (1,05)1,36.
     = 2,4
                     5.         R mei =  2,21(0,56)1,36
     = 1,00
  

                     6.         R jun  =  2,21 (0)1,36.
           = 0

   
                     7.         R jul   =  2,21(0,37)1,36
     = 0,57

                     8.         R agt  =  2,21 (0)1,36.
           = 0

                     9.         R sep  =  2,21 (0)1,36.
           = 0

                   10.       R okt  =  2,21 (0)1,36.
           = 0

                   11.       R nov =  2,21 (1,82)1,36.
           = 4,99

                   12.       R des =  2,21(0)1,36
           = 0

R Total = ∑ Rm
 = 2+6,8+1,4+2,4+1,0+0+0,57+0+0+0+4,99+0 =
 = 19,09




Lokasi                         : Lahan Kosong
Diketahui        : tabel curah hujan
                                K (latosol coklat) = 0,23
                                CP (teras bangku) = 0,01
                                          R = 19,09
                                LS = 6,8 = 25 - 40 %
Ditanya            : A ?
Jawab :    A     = R.K.L.S.C.P
                                    = 19,09 x 0,23 x 6,8 x 0,1
                                    = 2,63 ton/ 0,04 ha/tahun
                                    = 2,63 x 25
                                    = 65,75 ton/ha/tahun
Sehingga, tingkat bahaya erosi pada plot 3 atau berada pada lahan kosong yaitu kelas III atau 60-180 ton/ha/tahun

         
Data hasil praktikum dari kelompok lain :

·         Kelompok 1

Lokasi       : Sawah
Diketahui : tabel curah hujan
                  K (latosol coklat) = 0,23
                  CP (teras bangku) = 0,04
                  L = 78 m
                  Kemiringan 10o
                        R = 19,09
                  LS = 8,08
Ditanya     : A ?
Jawab : A  = R.K.L.S.C.P
                  = 19,09 x 0,23 x 8,08 x 0,04
                  = 1,42 ton/ 0,04 ha/tahun
                  = 1,42 x 25
                  = 35,5 ton/ha/tahun
Sehingga, tingkat bahaya erosi pada plot 1 atau berada pada sawah yaitu kelas I atau dibawa (<) 15 ton/ha/tahun

·         Kelompok 2

Lokasi        : Perkebunan tanaman keras hanya sebgian tanaman penutup tanah
Kemiringan : 0,4 LS
R                : 19,09
Pjng lereng  : 40 m
CP              : 0,07
Ditanya : A ?
A   = R.K.L.S.C.P
      = 19,09 x 0,23 x 0,4 x 0,07
      = 0,12 ton/0,04 ha/tahun
      = 0,12 x 25 ha
      = 3 ton/ha/tahun
Sehingga, tingkat bahaya erosi pada plot 2 atau berada pada kebun campuran yaitu kelas I atau dibawa (<) 15 ton/ha/tahun.

·         Kelompok 4

Lokasi : perkebunan tanaman keras hanya sebagian tanaman penutup tanah.
Kemiringan (LS)   : 6,8
R                           : 19,09
K                           : 0,23
CP                         : 0,07
Ditanya : A ?
Jawab : A  = R.K.L.S.C.P
                  = 19,09 x 0,23 x 6,8 x 0,07
                  = 2,09 ton/0,04 ha/tahun
                  = 2,09 x 25
                  = 52,25 ton/ha/tahun
Sehingga tingkat bahaya erosi pada perkebunan campuran sebesar 52,25 ton/ha/tahun atau berada dikelas II.


·         Kelompok 5

Lokasi : Hutan Alam
Diketahui  :
Panjang Lereng           : 25 m
Kemiringan : 1,4
LS : 0,15
R : 19,09
K : 0,32
C : SERASAH BANYAK (0,01)
P : 0,5
CP : 0,07
Jawab : A  = R.K.L.S.C.P
                  = 19,09 x 0,32 x 0,15 x 0,07
      = 0,064 ton/0,04 ha/tahun
     = 0,064 x 25
     = 1,5 ton/ha/tahun
Sehingga tingkat bahaya erosi pada perkebunan campuran sebesar 1,5 ton/ha/tahun atau berada dikelas I atau bahaya erosi = <15

B.     Pembahasan

                           Erosi adalah hilangnya atau terkikisnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat yang diangkut oleh media alami ketempat lain. Erosi menyebabkan hilangnya lapisan atas tanah yang subur, baik untuk pertumbuhan tanaman serta berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air. Tanah yang terangkut tersebut akan diendapkan ditempat lain: didalam sungai, waduk, danau, saluran irigasi dan sebagainya. Erosi sebenarnya merupakan proses alami yang mudah dikenali, namun di kebanyakan tempat kejadian ini diperparah oleh aktivitas manusia dalam tata guna lahan yang buruk, penggundulan hutan, kegiatan pertambangan, perkebunan dan perladangan, kegiatan konstruksi / pembangunan yang tidak tertata dengan baik dan pembangunan jalan. Tanah yang digunakan untuk menghasilkan tanaman pertanian biasanya mengalami erosi yang jauh lebih besar dari tanah dengan vegetasi alaminya. Alih fungsi hutan menjadi ladang pertanian meningkatkan erosi, karena struktur akar tanaman hutan yang kuat mengikat tanah digantikan dengan struktur akar tanaman pertanian yang lebih lemah.
Erosi permukaan sangatlah sulit untuk dilihat, terutama pada tanah dengan sudut kemiringan yang kecil. Namun demikian, pengaruhnya tetap nyata karena dapat dibedakan dengan adanya penurunan derajat kesuburan tanah, sehingga lama-kelamaan tanah akan semakin miskin karena air hujan yang jatuh dan mengalir diatas permukaan tanah tersebut akan melarutkan dan kemudian menghanyutkan butir-butir tanah yang mengandung unsur-unsur hara tanaman secara berangsur-angsur.
Dari data yang di dapat dengan lokasi lahan kosong dikawasan Hutan Sedau Narmada kecamatan Lombok Barat, di dapat data K (latosol coklat) = 0,23 ; CP (teras bangku) = 0,01 ; R = 19,09 ; LS = 6,8 = 25 - 40 % dengan tingkat bahaya erosi yaitu 65,75 ton/ha/tahun berada pada kelas III atau 60-180 ton/ha/tahun.
Hal ini disebabkan karena sedikit kemungkinan air yang dapat diserap oleh akar pada lahan kosong. Sehingga tingkat erosi yang terjadi lebih tinggi dari pada di sawah, perkebunan maupun hutan alam. Faktor yang paling sering berubah-ubah adalah jumlah dan tipe tutupan lahan. Semakin sedikit penutup tanah maka tingkat erosi semakin besar.
Sedangkan pada plot 1 atau yang berlokasi di sawah dengan  35,5 ton/ha/tahun Sehingga, tingkat bahaya erosi pada plot 1 atau berada pada sawah yaitu kelas I atau dibawa (<) 15 ton/ha/tahun
Pada lokasi Perkebunan tanaman keras hanya sebgian tanaman penutup tanah atau plot 2 dengan Kemiringan : 0,4 LS, R = 19,09, panjang lereng 40 m CP        0,07 di dapat 3 ton/ha/tahun. Sehingga, tingkat bahaya erosi pada plot 2 atau berada pada kebun campuran yaitu kelas I atau dibawa (<) 15 ton/ha/tahun.
Pada plot 4 dengan lokasi Perkebunan tanaman keras hanya sebagian tanaman penutup tanah dengan Kemiringan (LS) = 6,8 ; R = 19,09 ; K =0,23 dan CP = 0,07 didapat 52,25 ton/ha/tahun. Sehingga tingkat bahaya erosi pada perkebunan campuran sebesar 52,25 ton/ha/tahun atau berada dikelas II.
Lokasi Hutan alam atau plot 5 di dapat tingkat erosi sebesar 1,5 ton/ha/tahun Panjang Lereng = 25 m ; Kemiringan = 1,4 ; LS = 0,15 ; K = 0,32 ; CP : 0,07. Sehingga tingkat bahaya erosi pada perkebunan campuran berada dikelas I atau bahaya erosi  <15.
Dari data yang di dapat, perbandingan dengan tingkat erosi dari lokasi sawah, perkebunan tanaman keras hanya sebgian tanaman penutup tanah, lahan kosong dan hutan alam yaitu lahan kosong dengan tingkat erosi 65,75 ton/ha/tahun berada pada kelas III atau 60-180 ton/ha/tahun.
Setiap upaya pengolahan tanah akan menyebabkan terjadinya perubahan sifat-sifat tanah. Tingkat perubahan yang terjadi sangat ditentukan oleh cara atau metode pengolahan tanah. Perubahan sifat tanah akibat pengolahan tanah juga berhubungan dengan seringnya tanah dalam keadaan terbuka, terutama antara 2 musim tanam, sehingga menjadi lebih riskan terhadap dispersi agregat, erosi, dan proses iluviasi yang selanjutnya dapat memadatkan tanah.
Kenampakan erosi berupa riil dan gully sering terjadi pada lembah dengan kemiringan lereng yang tinggi. Perbedaan tipe penggunaan lahan juga memberikan perbedaan pada tingkat erosi tanah. Pada jenis tanah dan kemiringan lereng yang sama, hutan memberikan kontribusi pada terjadinya erosi lebih kecil dibandingkan dengan lahan pertanian atau semak/belukar. Misalnya perubahan penggunaan lahan, terutama dari perkebunan kopi menjadi perkebunan jeruk dan lahan pertanian kering, seperti, jagung dan sayuran, merupakan faktor yang menyebabkan terjadinya erosi. Struktur pohon dan kanopi tanaman kopi membuat aliran air hujan dapat tertahan dibandingkan dengan pertanian lahan kering dan tanaman jeruk, di samping adanya tanaman pelindung  pada  tanaman kopi. Air hujan yang langsung jatuh ke tanah dapat menyebabkan erosi lebih besar, dibandingkan dengan air hujan yang turun melalui daun dan batang.
Dengan mengetahui tingkat erosi yang terjadi dikawasan Hutan Sedau Narmada kecamatan Lombok Barat cara konservasi  yang cocok untuk di terapkan Secara garis besar teknik konservasi dapat dibagi dalam 2 kelompok, yaitu teknik konservasi vegetatif dan mekanik (sipil teknis). Untuk mencapai hasil yang maksimum dalam mengendalikan erosi dan aliran permukaan, aplikasi dari kedua metode ini sebaiknya tidak dipisahkan
Konservasi tanah vegetatif merupakan semua tindakan konservasi yang menggunakan tumbuh-tumbuhan (vegetasi), baik tanaman legum yang menjalar, semak perdu atau pohon, maupun rumput rumputan dan tumbuh-tumbuhan lainnya, serta sisa-sisa tanaman yang ditujukan untuk mengendalikan erosi dan aliran permukaan. Manfaat lain dari metode konservasi vegetatif adalah dapat mendukung sistem pengelolaan bahan organik, karena semua tindakan konservasi vegetatif  dapat berperan sebagai penghasil bahan organik. Kalaupun tanaman konservasi digunakan sebagai pakan ternak, tidak berarti mengubah fungsinya sebagai penghasil bahan organik bila pupuk kandang dikembalikan ke lahan, bahkan perpanjangan rantai ini akan memperbaiki kualitas bahan organik yang dihasilkan.
Semua perlakuan fisik mekanis yang diberikan terhadap tanah, dan pembuatan bangunan yang ditujukan untuk mengurangi aliran permukaan dan erosi serta meningatkan kelas kemampuan tanah disebutsebagai metode konservasi secara sipil teknis/mekanik. metode konservasi mekanik adalah berbagai macam teras (bangku, gulud, kebun, individu), rorak, pembuatan berbagai macam saluran pembuanganair, dan saluran drainase lainnya













BAB V. PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari data yang di dapat, perbandingan dengan tingkat erosi yang tinggi dari lokasi sawah, perkebunan tanaman keras hanya sebgian tanaman penutup tanah, lahan kosong dan hutan alam yaitu lahan kosong dengan tingkat erosi tertinggi 65,75 ton/ha/tahun berada pada kelas III atau 60-180 ton/ha/tahun.
      Konservasi tanah dapat dilakukan dengan cara Metode Vegetatif (Konservasi tanah vegetatif merupakan semua tindakan konservasi yang menggunakan tumbuh-tumbuhan),Metode sipil teknis (Mekanik), olah tanah konservasi.


B.     Saran
Adapun saran yang dapat saya berikan yaitu untuk menerapakan teknik konservasi tanah dan air lebih mengacu pada cara penanggulangan erosi karena jika erosi sermakin besar dan tidak ditanggulangi maka kesuburan tanah akan berkurang dan meyebabkan degradsai lahan. Teknik konservasi tanah dan air yang diterapkan dapat melalui dua cara yaitu secara vegetatif dan mekanik.












DAFTAR PUSTAKA

Arsyad,1989 Konservasi Tanah dan Air. Bogor: Jurusan Ilmu Tanah IPB.

Asdak, Chay. 1995. Hidrologi dan Pengelolan Daerah Aliran Sungai.  Yogyakarta: UGM Press.

Kartosapoetra. 1985. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Jakarta: Bumi Aksara

Samrumi. 2009. Pengertian dan Bentuk-bentuk Erosi. Yogyakarta: Kanisius


Sukrianto, T. 1990. Analisis Keberhasilan Kegiatan Konservasi Tanah dan Air dalam Rangka Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Tesis. IPB. Bogor.


 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar